Amazon Deals

Sabtu, 11 Februari 2012

Rizky Waesul Qurni mengundang Anda untuk saling terhubung

Email ini dikirim ke Anda oleh sistem otomatis - mohon tidak membalas secara langsung
Yahoo! Messenger
Gabung dengan Rizky Waesul Qurni di Yahoo! Messenger.
Ayo chat dengan saya, saling berbagi file dan banyak lagi.

Tetap terhubung dengan semua teman Anda. Mulai

  • Selalu terhubung saat di rumah, di kantor, atau pun di jalan
  • Bersenang-senang dengan game, emotikon, dan banyak lagi
  • Gabung dengan komunitas yang berisi lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia
Gabung dengan Teman Anda
Y! Dapatkan akses satu klik ke favorit Anda. Jadikan Yahoo! halaman awal Anda.
Bermasalah dengan tombol di atas? Klik link di bawah atau salin dan tempel di panel alamat browser Anda:
http://invite.msg.yahoo.com/invite?op=accept&intl=id&sig=hLcXQhByEBmSe1sNGGeU0.LMFdu1TpUrHqLohPE4wP_tHLZr6WUqqU5uLVudE1G.M2j.nQ--

Posted via email from rizkywaesulqurni's posterous

Senin, 22 Maret 2010

Bipasha in interview

INTERVIEW

Ajnabee, Raaz, Jism, Dhoom 2, Omkara, Race and now Aa Dekhen Zara. What’s this attraction to thrillers Bips?

Well, I have to thank Ajnabee. I never used to watch Hindi films while I was modelling, and because my first film was a thriller, it got me the much acclaimed fame, and there I was in the world of acting. I somewhat have this special love for thrillers and I love watching them. It’s great to be a part of so many thrillers I’ve worked in.

Do you think the mousey-girl-next-door type roles are passe, out, I mean?

Mousey is a little difficult for me to play anyway (laughs). If I did play, I could be a very strange mousey girl. I can’t be little because I am tall (laughs). Jokes apart, a girl-next-door role is definitely not passe. It has been an essential crux of quintessential Bollywood for years, and yes, there is a scope for such roles still but being stylist and glamorous has surely taken over, and that in turn is because the actresses are too glamorous now-a-days.

What’s the best moment you’ve captured on your digi cam so far?

It was 30th of July 2008 when my niece, Nia, was born. I was in the gymnasium when my mother called informing me that the baby was delivered. I rushed back and there she was. A picture perfect moment.

Has there been a high point so far that you look back at and think that where your career has changed direction?

Honestly, I’ve never really thought so much, neither have I planned right from day one where my career will lead me to. For a person who didn’t want to be an actor, then, getting into it full time as a profession, liking the work I do, everything has been different you know. At various points of time, my first film Ajnabee, then Raaz, then people telling me don’t do a Jism and still doing it, going into No Entry to do a full on commercial masala entertainer, then Corporate, Dhoom 2, Race, Bachna Ae Haseeno, I think the high points have been many and I’ve enjoyed every bit of it. No matter what I do, even the smallest of the roles have got me some kind of appreciation, and I thank my audiences for that.

Is it getting easier to juggle being an A list actor who is still single? b I will be single till I get married (laughs) but at the same time I’ve been in a relationship with John since eight years. It feels like me and John, have been a couple for eight years, all going pretty and strong. I’m loving, every bit of our relationship which we are juggling since almost a decade now.

Topic: Actress, Interview

http://myfilmblogs.com/bollywood/

Posted via web from rizkywaesulqurni's posterous

Untitled

Bipasha in interview

INTERVIEW

Ajnabee, Raaz, Jism, Dhoom 2, Omkara, Race and now Aa Dekhen Zara. What’s this attraction to thrillers Bips?

Well, I have to thank Ajnabee. I never used to watch Hindi films while I was modelling, and because my first film was a thriller, it got me the much acclaimed fame, and there I was in the world of acting. I somewhat have this special love for thrillers and I love watching them. It’s great to be a part of so many thrillers I’ve worked in.

Do you think the mousey-girl-next-door type roles are passe, out, I mean?

Mousey is a little difficult for me to play anyway (laughs). If I did play, I could be a very strange mousey girl. I can’t be little because I am tall (laughs). Jokes apart, a girl-next-door role is definitely not passe. It has been an essential crux of quintessential Bollywood for years, and yes, there is a scope for such roles still but being stylist and glamorous has surely taken over, and that in turn is because the actresses are too glamorous now-a-days.

What’s the best moment you’ve captured on your digi cam so far?

It was 30th of July 2008 when my niece, Nia, was born. I was in the gymnasium when my mother called informing me that the baby was delivered. I rushed back and there she was. A picture perfect moment.

Has there been a high point so far that you look back at and think that where your career has changed direction?

Honestly, I’ve never really thought so much, neither have I planned right from day one where my career will lead me to. For a person who didn’t want to be an actor, then, getting into it full time as a profession, liking the work I do, everything has been different you know. At various points of time, my first film Ajnabee, then Raaz, then people telling me don’t do a Jism and still doing it, going into No Entry to do a full on commercial masala entertainer, then Corporate, Dhoom 2, Race, Bachna Ae Haseeno, I think the high points have been many and I’ve enjoyed every bit of it. No matter what I do, even the smallest of the roles have got me some kind of appreciation, and I thank my audiences for that.

Is it getting easier to juggle being an A list actor who is still single? b I will be single till I get married (laughs) but at the same time I’ve been in a relationship with John since eight years. It feels like me and John, have been a couple for eight years, all going pretty and strong. I’m loving, every bit of our relationship which we are juggling since almost a decade now.

Posted via web from rizkywaesulqurni's posterous

Rabu, 10 Maret 2010

Resepsi Pernikahan Adat Jawa Yogyakarta

PostHeaderIcon Resepsi Pernikahan Adat Jawa Yogyakarta
PostAuthorIconWritten by Rizky Waesul Qurni


UPACARA PENGANTIN TRADISIONAL ADAT JAWA YOGYAKARTA

Perkawinan adat sangat bermacam-macam. Sekarang yang akan kita bahas di sini adalah perkawinan dengan adat Jawa Yogyakarta. Perkawinan adat Jawa melambangkan pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dan pengantin pria yang gagah dalam suatu suasana yang khusus sehingga pengantin pria dan pengantin wanita seperti menjadi raja dan ratu sehari. Biasanya perkawinan ini diadakan di rumah orang tua pengantin wanita, orang tua dari pengantin wanitalah yang menyelenggarakan upacara pernikahan ini. Pihak pengantin laki-laki membantu agar upacara pernikahan ini bisa berlangsung dengan baik.

1. Nontoni

Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dikawininya. Di masa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya. Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Setelah orang tua si pria yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan si pria sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah di antara orang tua/pinisepuh si pria untuk menentukan tata cara lamaran.

2. Lamaran dan Persiapan Perkawinan

Melamar artinya meminang, karena pada zaman dulu di antara pria dan wanita yang akan menikah terkadang masih belum saling mengenal, jadi hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama. Upacara lamaran: Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan yaitu orang tua calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu yang lazim disebut Jodang (tempat makanan dan lain sebagainya) yang dipikul oleh empat orang pria. Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain: Jadah, wajik, rengginan dan sebagainya. Menurut naluri makanan tersebut mengandung makna sebagaimana sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket (pliket, Jawa). Setelah lamaran diterima kemudian kedua belah pihak merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan.

Jika keduanya sudah merasa cocok, maka orangtua pengantin laki-laki mengirim utusan ke orangtua pengantin perempuan untuk melamar puteri mereka. Orangtua dari kedua pengantin telah menyetujui lamaran perkawinan. Biasanya orangtua perempuan yang akan mengurus dan mempersiapkan pesta perkawinan. Mereka yang memilih perangkat dan bentuk pernikahan. Setiap model pernikahan itu berbeda dandanan dan pakaian untuk pengantin laki-laki dan pengantin perempuan. Kedua mempelai harus mengikuti segala rencana dan susunan pesta pernikahan, seperti Peningsetan, Siraman, Midodareni, Panggih.

Segala persiapan tentu harus dilakukan. Dalam pernikahan jawa yang paling dominan mengatur jalannya upacara pernikahan adalah Pemaes yaitu dukun pengantin wanita yang menjadi pemimpin dari acara pernikahan, Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Karena upacara pernikahan adalah pertunjukan yang besar, maka selain Pemaes yang memimpin acara pernikahan, dibentuk pula panitia kecil terdiri dari teman dekat, keluarga dari kedua mempelai.

3. Peningsetan

Kata peningsetan adalah dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, jadi, peningsetan berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orang tua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin putri. Menurut tradisi peningset terdiri dari: kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang lazim disebut tukon ( imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya, jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur. Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.

4. Upacara Tarub

Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan), yang terdiri dari pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin yang memiliki arti agar pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Pasangan pengantin saling cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Dekorasi yang lain yang disiapkan adalah kembang mayang, yaitu suatu karangan bunga yang terdiri dari sebatang pohon pisang dan daun pohon kelapa.

Tarub adalah hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa yang hijau). Pemasangan tarub biasanya dipasang saat bersamaan dengan memandikan calon pengantin (siraman, Jawa) yaitu satu hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan.

Untuk perlengkapan tarub selain janur kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan. Adapun macamnya :

* Dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang.
* Dua janjang kelapa gading (cengkir gading, Jawa)
* Dua untai padi yang sudah tua.
* Dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus.
* Daun beringin secukupnya.
* Daun dadap srep

Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan pintu gerbang satu unit (bila selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak) Selain pemasangan tarub diatas masih dilengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan sebagai berikut. (Ini merupakan petuah dan nasehat yang adi luhung, harapan serta do'a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa) yang dilambangkan melalui:

· Pisang raja dan pisang pulut yang berjumlah genap.
· Jajan pasar
· Nasi liwet yang dileri lauk serundeng.
· Kopi pahit, teh pahit, dan sebatang rokok.
· Roti tawar.
· Jadah bakar.
· Tempe keripik.
· Ketan, kolak, apem.
· Tumpeng gundul
· Nasi golong sejodo yang diberi lauk.
· Jeroan sapi, ento-ento, peyek gereh, gebing
· Golong lulut.
· Nasi gebuli
· Nasi punar
· Ayam 1 ekor
· Pisang pulut 1 lirang
· Pisang raja 1 lirang
· Buah-buahan + jajan pasar ditaruh yang tengah-tengahnya diberi tumpeng
kecil.
· Daun sirih, kapur dan gambir
· Kembang telon (melati, kenanga dan kantil)
· Jenang merah, jenang putih, jenang baro-baro.
· Empon-empon, temulawak, temu giring, dlingo, bengle, kunir, kencur.
· Tampah (niru) kecil yang berisi beras 1 takir yang diatasnya 1 butir
telor ayam mentah, uang logam, gula merah 1 tangkep, 1 butir kelapa.
· Empluk-empluk tanah liat berisi beras, kemiri gepak jendul, kluwak,
pengilon, jungkat, suri, lenga sundul langit
· Ayam jantan hidup
· Tikar
· Kendi, damar jlupak (lampu dari tanah liat) dinyalakan
· Kepala/daging kerbau dan jeroan komplit
· Tempe mentah terbungkus daun dengan tali dari tangkai padi (merang)
· Sayur pada mara
· Kolak kencana
· Nasi gebuli
· Pisang emas 1 lirang

Masih ada lagi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang dilambangkan melalui : Tumpeng kecil-kecil merah, putih, kuning, hitam, hijau, yang dilengkapi dengan buah-buahan, bunga telon, gocok mentah dan uang logam yang diwadahi diatas ancak yang di taruh di:

* Area sumur
* Area memasak nasi
* Tempat membuat minum
* Tarub
* Untuk menebus kembarmayang (kaum)
* Tempat penyiapan makanan yanh akan dihidangkan.
* Jembatan
* Prapatan.

5. Nyantri

Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri satu sampai dua hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan di tempatkan di rumah saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap di tempat sehingga tidak merepotkan pihak keluarga pengantin putri.

6. Siraman

Siraman dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membersihkan diri agar menjadi suci dan murni. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari, sehari sebelum acara pernikahan. Siraman diadakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Biasanya orang yang melakukan Siraman yaitu orangtua dan keluarga dekat atau orang yang dituakan. Bahan-bahan untuk upacara siraman, yaitu:
• Kembang setaman secukupnya
• Lima macam konyoh panca warna (penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang
dikasih pewarna)
• Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya.
• Kendi atau klenting
• Tikar ukuran ½ meter persegi
• Mori putih ½ meter persegi
• Daun-daun: kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang
• Dlingo bengle
• Lima macam bangun tulak (kain putih yang di tepinya diwarnai biru)
• Satu macam yuyu sekandang (kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang
kuning)
• Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain
kuning), 1 helai jinggo (kain merah).
• Sampo dari londo merang (air dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah
liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air, air ini
dinamakan air londo)
• Asem, santan kanil, 2meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain
grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih
• Sabun dan handuk.

Saat akan melaksanakan siraman ada petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbolkan dalam:
• Tumpeng robyong
• Tumpeng gundul
• Nasi asrep-asrepan
• Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
• Empluk kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
• 1 butir telor ayam mentah
• Juplak diisi minyak kelapa
• 1 butir kelapa hijau tanpa sabut
• Gula jawa 1 tangkep
• 1 ekor ayam jantan
Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang memandikan, tujuh sama dengan pitu (Jawa) yang berarti pitulung (Jawa) yang berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes) dengan memecah kendi dari tanah liat.

Minggu, 07 Februari 2010

Analisis Struktural Puisi

Analisis Struktural
Puisi Sony Farid Maulana

Kumpulan Puisi: Secangkir Teh

"Tentang Ular"

Di kamar ini, di antara bayang-bayang kelambu

Aku cari wangi tubuhmu. Desis-desis ular dari bayang-bayang

Masih silam- kembali mennggema dalam ingatanku

Lalu firmanNya yang menggetarkan itu

1994


Sajak di atas merupakan kerinduan akan tuhannya (aku liris) dengan cara berdzikir. Si aku berada di dalam kamarnya. Ternyata ia teringat masa lalu yang buruk sehingga bayang-bayang kelam menghantuinya. Karena bayang-bayang kelam itu (yang selalu mengganggu, tidak terlihat), si aku mencari-cari wangi tubuhmu. Maksudnya yang menghubungkan ia dengan Tuhannya agar bayangan silam tersebut teratasi.

Berkat harumnya tasbih yang ia lantunkan dengan desis-desis (seperti halnya desis ular) yang si aku desiskan sehingga bayang-bayang telah sedikit banyaknya memudar. Kemudian, tiba-tiba bayang silam datang kembali dengan menggema dalam ingatan si aku. Lalu, dengan kekuatan firmanNya (ayat-ayat Tuhan) yang menggetarkan itu. Maksudnya, menggetarkan seluruh anggota badannya serta bayang-bayang silamnya sehingga redalah, dan aku lirispun menyadari akan semua kesalahan masa lalunya.

Kurang lebih, hasil memparafrasekan di atas seperti itu. Pada sajak yang berjudul Tentang Ular ini mengibaratkan desisnya ular yang serupa dengan desisnya manusia ketika berdzikir, memohon ampun kepada Tuhan, karena perbuatannya yang salah sehingga bayangan-bayangan selalu menghantui pikiran dan imajinasinya. Oleh karena itu, mengenai Tentang Ular ini bukan menceritakan segala bentuk apapun dari ular yang seperti kita kenal, melainkan desisnya ular. Seperti pada kata-kata: desis-desis ular dari bayang-bayang. Yang harus diketahui juga, bukan sekedar berdesis seperti halnya ular, tapi desisnya manusia ini memintakan ampunan kepada Yang Maha Kuasa. Seperti pada kata-kata: Lalu firmanNya yang menggetarkan itu.